Sampah Jadi Karya, Warga Tisnonegaran Tunjukkan Kreativitas dalam Lomba Daur Ulang

KANIGARAN – Sore mulai beranjak menuju malam. Namun, aktivitas warga di sejumlah sudut Kelurahan Tisnonegaran justru semakin semarak. Bukan sekadar menyambut kedatangan tim penilai, masyarakat dari berbagai lingkungan RT menunjukkan hasil kreativitas mereka dalam mengelola dan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

KANIGARAN – Sore mulai beranjak menuju malam. Namun, aktivitas warga di sejumlah sudut Kelurahan Tisnonegaran justru semakin semarak. Bukan sekadar menyambut kedatangan tim penilai, masyarakat dari berbagai lingkungan RT menunjukkan hasil kreativitas mereka dalam mengelola dan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Suasana tersebut terlihat dalam Penilaian Lomba Daur Ulang Antar-RT se-Kelurahan Tisnonegaran, Jumat (25/9/2026). Camat Kanigaran Purwantoro Noviyanto, S.STP., M.Si. bersama tim juri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo, didampingi Lurah Tisnonegaran beserta jajaran dan Tiga Pilar, turun langsung meninjau enam lokasi perwakilan RT dari masing-masing RW.

Penilaian dimulai dari Kantor Kelurahan Tisnonegaran pada sore hari dan berlanjut selesai hingga larut malam. Tim tidak hanya melihat hasil akhir atau produk yang ditampilkan, tetapi juga meninjau langsung lingkungan, berdiskusi dengan warga, menggali proses yang dilakukan, sekaligus memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.


Setiap lokasi memiliki cerita dan kreativitasnya masing-masing. Barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah kembali menjadi berbagai bentuk yang bermanfaat. Semangat warga dalam memilah, memanfaatkan dan mengolah sampah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, antara lain keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan, pemilahan sampah dari rumah, ragam bahan bekas yang dimanfaatkan, keberlangsungan kegiatan daur ulang, penyediaan tempat sampah terpilah serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).


Yang menarik, proses penilaian berlangsung dua arah. Warga tidak hanya menjelaskan apa yang telah mereka kerjakan, tetapi juga berdiskusi dengan tim juri mengenai bagaimana kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan.

Camat Kanigaran menyampaikan bahwa lomba ini bukan semata-mata tentang siapa yang mendapatkan nilai tertinggi, melainkan tentang bagaimana kompetisi mampu melahirkan kebiasaan baru di tengah masyarakat.

“Lomba ini kita jadikan momentum untuk bergerak bersama. Yang kita lihat bukan hanya produknya, tetapi bagaimana masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, bagaimana warga terlibat, bagaimana barang yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali, dan yang paling penting bagaimana kegiatan ini bisa terus berjalan setelah lomba selesai,” ujar Camat Kanigaran.

Menurutnya, kreativitas masyarakat yang ditemukan di lapangan menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan pendekatan yang sederhana, kreatif dan melibatkan banyak pihak.

“Sampah jangan hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan kreativitas dan kemauan untuk bergerak bersama, sesuatu yang dianggap tidak bernilai dapat menjadi karya, memiliki manfaat, bahkan dapat membuka peluang nilai ekonomi. Inilah semangat yang ingin kita tumbuhkan,” lanjutnya.

Kehadiran tim juri dari DLH sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Setiap temuan di lapangan dapat langsung didiskusikan, sehingga penilaian tidak berhenti pada pemberian angka, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, penggunaan kembali, hingga pengolahan sampah secara berkelanjutan.

Bagi Kecamatan Kanigaran, keterlibatan warga menjadi kekuatan utama. Sebab, lingkungan yang bersih dan sehat tidak dapat dibangun hanya melalui program pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran, partisipasi dan konsistensi masyarakat.

Camat Kanigaran juga mengapresiasi Lurah Tisnonegaran beserta jajaran dan seluruh warga yang telah menghidupkan kegiatan tersebut.

“Apa yang kita lihat hari ini adalah modal sosial yang luar biasa. Ada kreativitas, ada gotong royong, ada kepedulian dan ada kemauan untuk berubah. Semangat seperti ini harus terus dirawat, karena lingkungan yang bersih dimulai dari kesadaran kita sendiri,” ungkapnya.

Penilaian yang berlangsung dari sore hingga larut malam tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa semangat menjaga lingkungan tidak mengenal waktu. Di balik setiap karya dan inovasi yang ditampilkan, terdapat cerita tentang warga yang mau bergerak, belajar dan bekerja bersama.

Hasil penilaian selanjutnya akan menjadi dasar penentuan pemenang Lomba Daur Ulang Antar-RT se-Kelurahan Tisnonegaran.


Siapa yang akan menjadi pemenang?


Jawabannya akan disampaikan pada momentum Juanda Menari 26 September 2026.


Terlepas dari siapa yang nantinya memperoleh penghargaan, satu hal telah terlihat jelas dari proses penilaian ini: ketika masyarakat bergerak bersama, sampah dapat berubah menjadi karya, kreativitas dapat tumbuh menjadi kebiasaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi gerakan bersama.


Dari Tisnonegaran, gerakan kecil menjaga lingkungan terus tumbuh menjadi semangat bersama menuju Kanigaran yang bersih, kreatif, sehat dan berkelanjutan.


Salam Harmoni, Kanigaran Hebat.

LINK TERKAIT