KOTA PROBOLINGGO – Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo menghadirkan inovasi pelayanan masyarakat bertajuk BIPANG LEGI (BIngkisan Bahan PANGan Jum’at LEGI) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kembali budaya gotong royong di tengah masyarakat. Inovasi yang telah memasuki tahap implementasi ini menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi pemerintah kelurahan, Tim Penggerak PKK, dan masyarakat.
Kepala Kelurahan Tisnonegaran, Janita Layinnatusiva Istiqomah, S.IP., menjelaskan bahwa BIPANG LEGI lahir sebagai respons terhadap masih adanya masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan secara berkala, khususnya lansia, keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, serta warga yang mengalami kondisi darurat ekonomi.
“BIPANG LEGI kami hadirkan sebagai gerakan berbagi yang berkelanjutan. Kami ingin memastikan masyarakat yang membutuhkan memperoleh bantuan pangan secara rutin sekaligus membangun kembali semangat gotong royong melalui keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat,” ujar Janita.
Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada penyaluran bantuan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai budaya lokal melalui momentum Jumat Legi sebagai hari berbagi. Pendanaan program berasal dari donasi sukarela anggota PKK, aparatur kelurahan, dan masyarakat sehingga pelaksanaannya tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
Pelaksanaan BIPANG LEGI diawali dengan pendataan calon penerima manfaat oleh pengurus lingkungan dan Tim Penggerak PKK. Selanjutnya dilakukan rapat koordinasi, penggalangan donasi, pembelian bahan pangan, pengemasan paket bantuan, hingga penyaluran kepada masyarakat yang membutuhkan secara rutin setiap Jumat Legi. Setiap pelaksanaan juga disertai monitoring dan evaluasi sebagai upaya menjaga keberlanjutan program.
Janita menambahkan bahwa tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan kepedulian sosial masyarakat, membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga kurang mampu, memperkuat budaya gotong royong, meningkatkan peran aktif PKK dalam pemberdayaan masyarakat, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para donatur.
“Melalui BIPANG LEGI, kami berharap kepedulian sosial tumbuh menjadi budaya bersama. Ketika masyarakat saling membantu, ketahanan sosial akan semakin kuat dan kesejahteraan dapat diwujudkan secara gotong royong,” katanya.
Sejak diimplementasikan pada tahun 2025, BIPANG LEGI telah menghasilkan mekanisme penyaluran bantuan pangan yang lebih terstruktur, memperkuat kolaborasi lintas unsur masyarakat, meningkatkan partisipasi warga dalam kegiatan sosial, serta membangun budaya kepedulian yang berkelanjutan. Model inovasi ini juga dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah lain sebagai praktik baik dalam pelayanan publik berbasis pemberdayaan masyarakat.